NGOBROL SEJARAH KEYAKINAN

” proses keimanan terus mengalami pola perkembangan, evaluasi yang berkelanjutan. Iman manusia bukanlah secara mutlak sebatas paket warisan yang tidak mungkin dikaji lagi. Proses keimanan tanpa kaidah perkembangan dan evaluasi adalah cikal bakal pondasi dasar pemahaman doktrinitas dari semua iman agama. Desakan dan reduksi dari proses produksi budaya, ideologi yang terus bergerak maju dan menuntut menjadikan epistemologi diambang pertaruhan antara rekonstruksi atau kebangkrutan”

      Dalam perjalanan sejarah iman manusia telah mengalami revisi yang terus menerus dalam mengahadapi desakan dan tuntutan budaya dan ideologi luar yang mengancam. Revisi dan suntingan pesan suci tidak dimaksudkan mengubah substansi dari suara dari kitab suci sebagai pijakan yang konstan atas identitas atas jemaat, revisi yang secara terus menerus dilakukan adalah sebagai bentuk refleksi atas situasi dan materi didunia yang dimainkan oleh, generasi dan bahan materi yang baru pula.
    Revisi bukan semata-mata hanya  reaksi atas reduksi dari lingkungan yang terus bergerak maju melainkan sebuah aksi yang merujuk kepada pencapaian-pencapaian baru atas superioritas dan identitas suatu jemaat yang terikat akan perjanjian iman. Perjanjian iman yang berbahan baku atas wacana-wacana sekitar dan sejarah keselamatan yang dilestarikan terus membentuk aneka pencabanganya sehingga menghasilkan asumsi-asumsi yang terus diolah dengan aneka macam aspek sebagai bahan bakar dalam mendorong peradaban terus bergerak maju. Bahan baku yang terdiri kerusakan moralitas dan kesenjangan material membawa imaginasi dan wacana baru kedalam muara evaluasi dan pengambilan keputusan yang revolusioner. keputusan revolusiioner atas sebuah jemaat yang tertindas disegala bidang. tindakan ini bukan semata-mata jemaat tersebut bisa masuk kedalam kategori sektariaan yang bepola tertutup atau usaha yang hanya dikategorikan sebagai upaya kelompok-kelompok yang tersisih dalam persaingan kelas dan tidak mau bersandingan dengan budaya-budaya yang baru, akan tetapi aksi revolusioner ini adalah upaya melindungi dan melawan kondisi spiritual dan material yang terus diserang dan diancam.
    “Sejarah yang diciptakan oleh , musa, isa dan muhammad adalah upaya penyatuan yang tidak dibatasi oleh konsep penuhanan baru semata. mereka berwawasan terhadap penyatuan wilayah dan penyatuan epistemologi”.
kondisi kesenjangan dan kemajemukan dimasyarakat adalah bahan baku mereka dalam merumuskan sebuah keputusan revolusioner berbasis tradisi abraham dalam memapankan sebuah konsep identitas yang bersatu yang terjadi dalam wilayah dan waktu yang berbeda, akan tetapi berkelanjutan atas kondisi masyarakat yang terjebak dalam kemajemukan
     Pelaku sejarah teologi abraham yang dibawa musa, yesus, muhammad adalah sebuah bentuk pentradisian yang berkelanjutan dengan waktu dan tempat yang berbeda. Materi dan wacana budaya yang berbeda tidak membuat identitas penganut teologi abraham keluar jalur dari substansinya. Meskipun mempunyai aspek-aspek budaya dan sosialogis yang berbeda akan tetapi konsep penyatuan dan pentradisian syahadat nilai-nilai moralitas, kesetaraan dan  hukum-hukum yang berkedaulatan tetap[apodiktif] dalam tradisi teologi abraham tetap menjadi pondasi utama atas apa yang mereka klaim sebagai revolusi. pondasi pokok dari ketiga pelaku sejarah teologi abraham adalah:
  •     hukum-hukum yang berkedaulatan tetap menjadi disiplin dasar; tent commandement musa selalu mengiringi iman yang dibawa yesus dan muhammad.
  •    Pengimanan yang berbasis perjanjian atas upaya solidaritas dan pembelaan satu suku dengan suku lain
  •    legitimasi perang suci atas penaklukan ideologi luar yang mengancam moralitas dan identitas jemaat
Satu visi tiga sisi teologi abraham dalam perjalananya tidak selugu seperti apa yang tertera dalam teks, tidak selugu karena materi suara suci juga terus direvisi dalam pola tafsir dengan berbagai sudut penafsiran yang saling bersaing dan  memasukan bahan-bahan baru dengan generasi dan wilayah yang baru pula. dan hal ini selalu memunculkan imaginasi yang terus hidup dalam menggugah bangsa dibelahan bumi manapun yang meratap akan kondisi kesenjangan dan hilangnya semua previlege atas akses keadilan.
      Bangsa indonesia telah mengalami kemajemukan yang sama dalam aneka macam epistemologi dimana setiap individu, kelompok mempunyai acuan dalam menafsirkan suara kitab suci baik yahudi, nasrani dan islam. ketiga agama yang mempunyai cabang dan ranting masing-masing dan  menempatkan bangsa indonesia bangsa yang paling majemuk disegala pencabanganya didunia.
    Kemajemukan ini pada satu sisi adalah sebuah kekayaan dalam menyaring nilai-nilai moralitas yang ada didalamya sebagai bahan bakar mencitrakan, bersanding dan berkarya dengan bangsa lain. akan tetapi kemajemukan di indonesia adalah sebuah kemajemukan yang tertutup satu dengan yang lain atas pola tafsir kelompok satu dengan kelompok lain dalam membedah realitas kitab suci. belum lagi ketertutupan antar kelompok yang berbeda kitab suci.
    Komunikasi antar agama harus di fasilitasi oleh negara dalam mencapai kesepakatan-kesepakatan kerukunan, sehingga kerukunan ini sangat rawan konflik apabila kondisi politik sekuler goyah. Belum ada keberanian tiap-tiap kubu baik islam, kristen ataupun yahudi untuk duduk berdiskusi dalam membedah realitas kitab suci yang secara substansial berakar kepada teologi abraham ini. sedangkan salah satu cara menjaga kemajemukan dalam keamanan yang kuat adalah saling percaya dan berorientasi kepada penyatuan bangsa yang super majemuk ini. Munculnya berbagai kesenjangan yang diobral media menjadikan para jemaat yang hidup di negeri ini baik islam, kristen, yahudi dan kelompok sekuler harus mengevaluasi lagi atas tafsir mereka atas kondisi kesenjangan yang juga sangat majemuk dan menjengkelkan ini.
     Munculnya gerakan-gerakan yang berbasis kitab suci yang berkembang di indonesia adalah salah satu bagian bentuk pemberontakan dan keputusan revolusioner jemaat atas kondisi kesenjangan material. Belum lagi kebekuan dan terkurungnya pola tafsir yang selama ini dikuasai lembaga yang hanya mengedepankan nilai budi pekerti semata serta merta mengesampingkan makna teologis beserta kepadataanya menjadikan jemaat mengadopsi rujukan-rujukan tafsir yang radikal. Bagimanapun juga pola tafsir yang tercipta dari lingkungan konflik dan keras akan menekankan epistemologi yang keras pula bagi jemaat lain. dan ini berbahaya bagi bangsa indonesia yang mempunyai sejarah, karakter, budaya yang sangat jauh berbeda dari islam, kristen dimana mereka diciptakan. sekarang ideologi pancasila harus terseok-seok menjadi wasit atas pola tafsir yang diadopsi tanpa kendali ini.
     Kemajemukan yang komplek di indonesia harus segera diatasi dengan membuat pintu alternatif bagi terbukanya pola tafsir antar jemaat atas upaya membdah realitas yang terus menuntut dan tidak mau kompromi terus bergerak maju. Pintu baru bagi kemajemukan bukan sebuah upaya kawin silang sehingga membuat barang baru melainkan untuk mencairkan prasangka dan dendam atas sejarah existensi yang di ciptakan oleh benua lain. kemajemukan yang mengarah kepada pola sektarian ini apabila terus dibiarkan akan membawa indonesia kedalam kebangkrutan iman yang parah bahkan disintegrasi. Sebuah rekonstruksi iman tidak harus memunculkan sosok mesiah atupun rosul baru yang  cenderung dikultuskan dan beresiko penistaan atas jemaat lain .Kalaupun upaya rekonstruksi iman itu adalah sebuah upaya fusi baru dalam mencairkan pola tafsir yang tertutup kemuara yang terbuka dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai teologis maupun historis masing-masing jemaat. Tampilnya wasit yang tidak memihak atas upaya fanatisme dan arogansi salah satu pihak memang tidak mudah dan tidak mengundang resiko, akan tetapi upaya itu adalah satu-satunya cara menjaga kemajemukan bangsa ini kedalam semangat yang sama dalam menjaga penyatuan dan memperjuangkan kesetaraan jemaat baik spiritual dan material.
  ” rekonstruksi iman dalam mencairkan pola tafsir yang tertutup dan cenderung sektarian adalah bagian dasar bahwa iman manusia harus mengalami proses perkembangan dalam upaya menghindari pondasi dogmatis dimana segala sesuatu dipaksa dengan serba kejanggalanya”
   ” aspek historis, sosiologis memang penting dalam membedah realitas kitab suci sebagai epistemologi baru dari wacana yang serba hakul yakin dan imaginatif sebelumnya, kedalam wacana yang objektif, saintis dan logika. akan tetapi tanpa rethorika yang menggugah  suara kitab suci al-qur’an, injil maupun taurot akan menempatkan kitab suci tersebut menjadi nirmakna dan mati”.

About patribumi

sumbangsih kita dituntut dibumi yang cuma satu ini... berbagi memahami introspeksi ke arah yang martabat yang berdaulat

sharing in wisdom

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: